Minggu, 12 November 2017

Penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR)


HANDOUT PEMBELAJARAN
KESELAMATAN, KESEHATAN KERJA DAN LINGKUNGAN HIDUP
Sub Materi : Alat Pemadam Api Ringan (APAR)

A.    Tahap-tahap Kebakaran
Kejadian kebakaran pada umumnya menimbulkan banyak kerugian baik itu korban jiwa maupun kerugian harta benda. Hal tersebut dikarenakan pada umumnya kebakaran sulit untuk dikendalikan (dipadamkan). Untuk menghindari kerugian yang dimaksud, maka perlu kita kenali sifat-sifat terjadinya (tahap-tahap) kebakaran tersebut.  Tahap-tahap kebakaran tersebut antara lain :
1.      Tahap Kebakaran Muncul
Reaksi 3 unsur api (panas, oksigen dan bahan mudah terbakar). Dapat padam dengan sendirinya apabila api tidak dapat mencapai tahap kebakaran selanjutnya. Menentukan tindakan pemadaman atau untuk menyelamatkan diri.
2.      Tahap Kebakaran Tumbuh
Api membakar bahan mudah terbakar sehingga panas meningkat. Dapat terjadi flashover (ikut menyalanya bahan mudah terbakar lain di sekitar api karena panas tinggi). Berpotensi menimbulkan korban terjebak, terluka ataupun kematian bagi petugas pemadam. 
3.      Tahap Kebakaran Puncak
Semua bahan mudah terbakar menyala secara keseluruhan. Nyala api paling panas dan yang paling berbahaya bagi siapa saja yang terperangkap di dalamnya.
4.      Tahap Kebakaran Reda (Padam)
Tahap kebakaran yang memakan waktu paling lama di antara tahap-tahap kebakaran lainnya. Penurunan kadar oksigen atau bahan mudah terbakar secara signifikan yang menyebabkan padamnya api. Terdapatnya bahan mudah terbakar yang belum menyala berpotensi menimbulkan nyala api baru secara. Berpotensi menimbulkan backdraft (ledakan yang terjadi akibat masuknya pasokan oksigen secara tiba-tiba dari kebakaran ruang tertutup yang dibuka mendadak saat kebakaran berlangsung). 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiDtuYFyO8XztCPW_5boUze2ydNAiEX_TNBUWlpdwffOth1J0tCu84G_K58g966NizWXZBrX98bI3zQ6zq7lXXUeUO3u6gMQ07grQk7eVDt8XWHLtxfnJtqltmHgjbA_Synu7y-NumJQrw/s1600/Tahapan+Kebakaran.jpg
Gambar 1. Tahap-tahap kebakaran
Untuk dapat memadamkan kebakaran terdapat beberapa metode berdasarkan teori terbentuknya api (segitiga api) yaitu diantaranya dengan metode pendinginan, isolasi, dilusi, pemisahan bahan mudah terbakar dan pemutusan rantai reaksi api.
1.      Pendinginan
Proses ini untuk menghilangkan unsur panas menggunakan media bahan dasar air. 
2.      Isolasi
Menutup permukaan benda yang terbakar untuk menghalangi unsur oksigen menyalakan api menggunakan media serbuk ataupun busa.
3.      Dilusi
Meniupkan gas inert untuk menghalangi unsur oksigen menyalakan api menggunakan media gas CO2.
4.      Pemisahan Bahan Mudah Terbakar
Memisahkan bahan mudah terbakar dari unsur api dengan memindahkan bahan-bahan mudah terbakar jauh dari jangkauan api.
Pemutusan Rantai Reaksi
5.      Memutus rantai reaksi api dengan menggunakan bahan tertentu untuk mengikat radikal bebas pemicu rantai reaksi api menggunakan bahan dasar Halon (Penggunaan Halon sekarang dilarang karena menimbulkan efek rumah kaca). 

B.     Klasifikasi Kebakaran
Klasifikasi kebakaran secara umum merujuk pada klasifikasiInternasional yaitu klasifikasi (kelas) kebakaran menurut NFPA (National Fire Protection Association) Amerika.  Klasifikasi kebakaran berguna untuk menentukan media pemadam efektif untuk memadamkan kebakaran menurut sumber kebakaran tersebut, serta berguna untuk menentukan tingkat keamanan jenis suatu media pemadam sebagai media pemadam suatu kelas kebakaran berdasarkan sumber api/kebakarannya. NFPA membagi klasifikasi (kelas) kebakaran menjadi 6 (enam) kelas yaitu :
Kebakaran diklasifikasikan berdasarkan sumbernya:
1.      Kelas A.
Kebakaran yang disebabkan oleh benda-benda padat kecuali logam, misalnya kayu, plastik, karet busa dan lain lain. Media pemadam kebakaran ini berupa air, pasir, karung goni yang dibasahi, dan alat pemadaman kebakaran racun api tepung kimia.
2.      Kelas B.
Kebakaran yang disebabkan oleh benda-benda yang mudah kebakar berupa cairan, misalnya bensin, solar, minyak tanah, spritus, alkohol dan lain-lain. Media pemadaman ini berupa pasir, dan alat pemadam racun api tepung kimia kering, dilarang memakai air untuk jenis ini karena berat jenis air lebih berat dari pada berat jenis bahan terbakar sehingga apabila dipergunakan air maka kebakaran akan merambat dan melebar kemana-mana.
3.      Kelas C.
Kebakaran yang disebabkan oleh listrik. Media pemadaman kebakaran ini berupa alat pemadam kebakaran racun api tepung kimia kering. Matikan dahulu sumber listrik agar aman dalam memadamkan api. Perlu diperhatikan dalam memilih jenis media pemadam yaitu yang tidak menghantar listrik untuk melindungi orang yang memadamkan kebakaran dari aliran listrik.

4.      Kelas D
Kebakaran kelas D yaitu kebakaran bahan logam, seperti: aluminium, magnesium, kalium, dll yang sejenis dengan itu.
5.      Kebakaran kelas E yaitu kebakaran bahan-bahan radioaktif.
6.      Kebakaran kelas K yaitu kebakaran bahan-bahan masakan seperti minyak goreng, dll.

KELAS
KEBAKARAN
PEMADAM
Kebakaran Kelas A
Padat, non logam
Kertas, kain, plastik, kayu
Media Pemadam Kebakaran Kelas A
Air, uap ir, pasir, busa, CO2, serbuk kimia kering, cairan kimia
Kebakaran Kelas B
Gas/uap/cairan kimia
Metana, amoniak, solar
Media Pemadam Kebakaran Kelas B
CO2, serbuk kimia kering, busa
Kebakaran Kelas C
listrik
Arus pendek
Media Pemadam Kebakaran Kelas C
CO2, serbuk kimia kering, busa
Kebakaran Kelas D
Logam
Aluminium, tembaga, besi, baja
Media Pemadam Kebakaran Kelas D
Serbuk kimia sodium klorida, grafit
Kebakaran Kelas E
radioaktif
Bahan-bahan radioaktif
Belum diketahui secara spesifik
Kebakaran Kelas K
Bahan masakan
Lemak dan minyak masakan
Media Pemadam Kebakaran Kelas K
Cairan kimia, CO2
Tabel 1. Jenis Kebakaran dan Bahan Pemadamnya

C.    Jenis-jenis Alat Pemadam Api Ringan (APAR)
APAR atau alat pemadam api ringan adalah alat yang ringan (dengan berat maksimal 16 kg) serta mudah ditangani oleh satu orang untuk memadamkan api pada awal terjadinya kebakaran. Tabung APAR harus diisi ulang sesuai dengan jenis dan konstruksinya. Jenis APAR meliputi: jenis air (water), busa (foam), serbuk kering (dry chemical) gas halon dan gas CO2, yang berfungsi untuk menyelimuti benda terbakar dari oksigen di sekitar bahan terbakar sehingga suplai oksigen terhenti. Zat keluar dari tabung karena dorongan gas bertekanan.
APAR (Alat Pemadam Api Ringan) terdiri dari beberapa jenis, antara lain:
1.      Jenis Air (water)
Air digunakan untuk memadamkan kebakaran dengan hasil yang memuaskan ( efektif dan ekonomis ) karena harganya relatif murah, pada umumnya mudah diperoleh, aman dipakai, mudah disimpan dan dipindahkan. APAR jenis air terdapat dalam bentuk stored pressure type (tersimpan bertekanan) dan gas cartridge type (tabung gas). Sangat baik digunakan untuk pemadaman kebakaran kelas A.
Gambar 2. APAR jenis air (water)
2.      Jenis Busa (foam)
Jenis busa adalah bahan pemadam api yang efektif untuk kebakaran awal minyak. Biasanya digunakan dari bahan tepung aluminium sulfat dan natrium bicarbonat yang keduanya dilarutkan dalam air. Hasilnya adalah busa yang volumenya mencapai 10 kali lipat. Pemadaman api oleh busa merupakan sistem isolasi, yaitu untuk mencegah oksigen untuk tidak ikut dalam reaksi.
Gambar 3. APAR jenis busa (foam)

3.      Jenis Tepung Kimia Kering (Dry Chemical Powder)
Bahan pemadam api serbuk kimia kering (Dry Chemical Powder) efektif untuk kebakaran B dan C bisa juga untuk kelas A. Tepung serbuk kimia kering berisi dua macam bahan kimia, yaitu:
a) Sodium Bicarbonate dan Natrium Bicarbonate
b) Gas CO2 atau Nitrogen sebagai pendorong
Khusus untuk pemadaman kelas D (logam) seperti magnesium, titanium, zarcanium,
dan lain-lain digunakan metal-dry-powder yaitu campuran dari Sodium, Potasium dan Barium Chloride.
Gambar 4. APAR jenis tepung kimia kering (Powder)
4.      Jenis Halon
APAR (Alat Pemadam Api Ringan) jenis Halon efektif untuk menanggulangi kebakaran jenis cairan mudah terbakar dan peralatan listrik bertegangan (kebakaran kelas B dan C). Bahan pemadaman api gas Halon biasanya terdiri dari unsur-unsur kimia seperti: chlorine, flourine, bromide dan iodine.
Gambar 5. APAR jenis halon
Pemilihan jenis APAR harus memperhatikan kelas kebakaran dan juga tempat APAR tersebut akan digunakan. Pemilihan APAR yang tepat akan mempermudah anda untuk memadamkan api.

D.    Prosedur pengoperasian alat pemadam api
Walaupun berbeda bentuk dan ukuran, namun berbagai merk Alat Pemadam Api Ringan umumnya memiliki cara kerja yang hampir sama. Di dalam bahasa inggris terdapat singkatan untuk memudahkan kita mengingat cara menggunakan alat pemadam api ringan, yaitu: P.A.S.S.
1.    Pull atau Tarik kunci pengaman hingga terlepas. Kunci berfungsi sebagai pengaman handle atau pegangan dari penekanan yang tidak disengaja.
2.    Aim atau arahkan nozzle atau ujung hose yang kita pegang ke arah pusat api.
3.    Squeeze  atau tekan handle atau pegangan untuk mengeluarkan / menyemprotkan isi tabung. Pada beberapa merek handle penyemprot terletak di bagian ujung hose.
4.    Sweep atau sapukan nozzle yang kita pegang ke arah kiri dan kanan api, agar media yang disemprotkan merata mengenai api yanng sedang membakar.
Gambar 6. Langkah-langkah menggunakan APAR
Sebelum kita mulai menyemprotkan isi tabung pemadam api ringan harus mengetahui arah hembusan angin. Jangan sampai posisi kita berdiri berlawanan dengan arah angin, karena angin akan meniup kembali media yg kita semprotkan kearah kita berdiri. Sebaiknya kita berdiri di posisi membelakangi arah angin selain untuk menghindari tiupan hawa panas juga menghindarkan kita dari media yg kita semprotkan kembali kearah kita.

E.     Perawatan alat pemadam api
Alat pemadam api ringan (fire extinguisher) atau APAR adalah alat yang sangat penting. Karena itu APAR berfungsi mematikan api pada saat pertama kali muncul. Penggunaan APAR yang efektif akan mampu mencegah terjadinya bahaya kebakaran. Ada banyak faktor yang mempengaruhi efektifitas pencegahan kebakaran di tempat kerja. Bukan saja pemilihan jenis alat pemadam api yang harus tepat, akan tetapi harus diperhatikan pula faktor pemasangan dan pemeliharaannya.
Syarat-syarat Pemasangan dan Pemeliharaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR), bahwa:
1.        Ditempatkan pada posisi yang mudah dilihat dengan jelas, mudah dicapai dan diambil, serta dilengkapi dengan pemberian tanda pemasangan.
2.         Tinggi pemberian tanda pemasangan adalah 125 cm dari dasar lantai tempat di atas satu atau kelompok alat pemadam api ringan yang bersangkutan.
3.        Pemasangan APAR harus sesuai dengan jenis dan penggolongan kebakaran.
4.        Penempatan antara APAR yang satu dengan yang lain tidak boleh lebih dari 15m.
5.        Semua APAR harus dipasang menggantung pada dinding dengan penguatan sengkang atau ditempatkan dalam almari/box yang tidak dikunci.
6.        Semua warna tabung sebaiknya merah.
7.        Lemari/ box dapat dikunci dengan syarat bagian depannya harus diberi kaca pengaman dengan tebal maksimum 2 mm.
8.        Ukuran panjang dan lebar bingkai kaca pengaman harus disesuaikan dengan ada dalam lemari atau box sehingga mudah dikeluarkan.
9.        APAR tidak boleh di pasang di ruangan di mana suhu melebihi 49º C atausuhu sampai minus 44ºC kecuali apabila APAR tersebut dibuat khusus suhu di luar batas tersebut diatas.
10.    Penempatan APAR pada alam terbuka harus dilindungi dengan tutup pengaman.

F.     Pemeliharaan alat pemadam api
APAR harus diperiksa 2 kali dalam setahun, yaitu pemeriksaan jangka 6 bulan dan pemeriksaan jangka 12 bulan. Jika pada saat pemeriksaan APAR ditemui kecacatan maka harus segera diganti dengan pengganti yang masih baik dan bisa digunakan.
Pemeriksaan APAR dalam jangka 6 bulan meliputi hal-hal sebagai berikut:
1.        Berisi atau tidaknya tabung, berkurang atau tidaknya tekanan dalam tabung, rusak atau tidaknya segi pengaman cartridge atau tabung bertekanan dan mekanik penembus tabung.
2.        Bagian-bagian luar dari tabung tidak boleh cacat termasuk handle dan label harus selalu dalam keadaan baik.
3.        Mulut pancar tidak boleh tersumbat dan pipa pancar yang terpasang tidak boleh retak atau menunjukkan tanda-tanda rusak.
4.        Untuk APAR cairan atau asam soda, diperiksa dengan cara mencampur sedikit larutan sodium bicarbonat dan asam keras diluar tabung, apabila reaksi cukup kuat, maka alat pemadam api ringan tersebut dapat dipasang kembali.
5.        Untuk alat pemadam api ringan jenis busa, diperiksa dengan cara mencampur sedikit larutan sodium bicarbonat dan aluminium sulfat diluar tabung, apabila reaksinya cukup kuat, maka alat pemadam api ringan tersebut dapat dipasang kembali.
6.        Untuk alat pemadam api ringan hidrokarbon berhalogen kecuali jenis tetrachloride diperiksa dengan cara menimbang, jika beratnya sesuai aslinya dapat dipasang kembali.
7.        Untuk alat pemadam api carbon tetrachloride, diperiksa dengan cara melihat melihat isi cairan didalam tabung dan jika masih memenuhi syarat dapat dipasang kembali.
Untuk alat pemadam api jenis carbon dioxide harus diperiksa dengan cara menimbang serta mencocokan beratnya dengan berat yang tertera pada alat pemadam api tersebut, apabila terdapat kekurangan berat sebesar 10%, tabung pemadam api itu harus diisi kembali sesuai dengan berat yang ditentukan.